Andalan

Si Manis Penghisap Darah

Di remang-remang kegelapan malam aku akan terbang dengan kepakan-kepakan yang mengeluarkan aroma parfum-parfum bebunga eropa. Di kedua sisi gusiku tumbuh dua gigi taring yang kadang terlihat keluar dari dalam bibirku yang memerah darah. Penciumanku tajam, mampu menjangkau bebau hingga beratus-ratus meter. Aku mempunyai serbuk memabukkan yang dapat membuat siapapun terpikat ketika menciumnya.

Aku lari dari kehidupan yang kebanyakan orang menyebutnya normal. Namun, bagiku di sanalah rimba yang dipenuhi binatang-binatang buas yang memiliki begitu banyak alat kamuflase untuk menutupi kebinatangannya. Aku mengasing dari mereka yang selalu menjadi budak-budak kehidupan yang dipenuhi nafsu duniawi. Rela melakukan apapun. Rela mengorbankan apapun.

Kisah hidupku berawal ketika seorang wanita yang berprofesi sebagai model di salah satu majalah ternama menjalin cinta dengan seorang pemuda yang mewarisi kekayaan orang tuanya, karena ia merupakan anak tunggal.

Pertemuan pada sebuah restoran favorit membuat mereka mempunyai hasrat untuk saling memiliki. Wanita itu terpikat oleh lelaki berbadan ramping kekar, berkulit putih bersih, rambut ikal, serta bibir tipis merah yang memikat siapapun bila memandangnya. Ia makan tepat di samping mejanya. Sedari tadi tampak menaruh pandang berlebih padanya yang malam itu mengenakan gaun warna merah dan dandanan sebagaimana biasanya ketika pemotretan. Niatnya ke restoran itu tidak hanya sekadar makan. Tetapi, karena ajakan manajernya untuk menemui salah satu pemilik majalah tersohor dalam rangka menjalin kerjasama. Karena pada majalah sebelumnya dirasa kurang memuaskan.

Pemuda itu pun terpesona pada wanita di sebelah mejanya tersebut. Wanita dengan rambut terikat rapi, gaun merah mewah. Pipinya merah merona. Matanya tajam kecoklatan, serta bibirnya merah darah. Tatapan wanita itu telah merangkak masuk dari matanya hingga ke ulu hati. Meski makanan telah lama selesai disantap dia tak lantas beranjak pergi dari tempat itu. Sengaja ditunggunya hingga wanita itu bergegas pergi pula.

Ketika wanita dan kawanannya hendak beranjak pergi dari restoran tersebut sang pemuda bergegas menyusulnya.

“Hai, selamat malam, nona,” sapanya dengan sopan.

“selamat malam. Siapa ya?” Balas wanita tersebut dengan sedikit kaget dan bertanya-tanya, namun tetap terlihat ramah disertai senyum manis tulus dari bibirnya.

Obrolan singkat seputar perkenalan satu sama lain itu telah membuat mereka menanam harap pada pertemuan berikutnya.

***

Malam menjadi waktu yang singkat untukku  menentang lelap. Dari menit ke menit hinga jam ke jam kumaksimalkan segalanya sebaik mungkin. Seperti ibadah orang-orang alim yang khusuk dalam bilangan tasbihnya. Aku pun demikian menikmatinya. Dan aku tak akan pernah puas sebelum dadaku sesak dengan darah yang kuhisap semalaman. Dan pagi adalah akhir dari segala keberingasan ini.

Pelarianku dari kehidupan normal memang bukan sesuatu yang sengaja kuperbuat. Namun, pada akhirnya aku jadikan itu sebagai pilihan. Karena lambat laun dari dunia ini kemudian aku dapat memahami  dan mengenali topeng-topeng yang digunakan oleh banyak binatang rimba itu.

Aku akan mengasing. Biar kata mereka akulah binatang laknat itu. Biar hitam jalanku, kugagahi sendiri meski tak ada ujung cahaya kutemui. Hari-hariku dipenuhi dengan cacian dan cercaan. Dahiku seperti telah tercoreng arang yang menempel ke mana pun aku pergi. Tubuhku seperti dipenuhi dengan nanah menjijikkan yang tak seorang pun mau mendekati.

Dari setiap kepahitan itu tak sedikitpun ada sesal di hatiku. Aku tak pernah mengutuk nasibku, walau sepanjang hidup akan bergumul dalam lumpur kenistaan. Bukan karena aku seorang perempuan. Tetapi, bagiku ketika garis hidupku telah tertulis seperti ini, maka aku akan menjalaninya seperti ini hingga akhir.

Tuhan? Aku tak pernah mengenalnya sejak kecil. Aku hanya tahu dia sering disebut-sebut oleh binatang-binatang rimba itu. Bahkan binatang-binatang itu kerap mengadakan ritual-ritual aneh sebagai bentuk kapatuhan pada sesuatu yang bernama Tuhan itu. Aku percaya akan keberadaan sesuatu yang bernama Tuhan itu, aku pun berkeyakinan bahwa  jalan hidupku sudah diatur oleh sesuatu yang maha kuasa di dunia ini. Hanya saja kepada Tuhan yang mana aku aku dapat menghalalkan darah yang kuhisap setiap malam?

***

Dari pertemuan di restoran malam itu mereka kerap melakukan janjian untuk bertemu. Kemesraan demi kemesraan terus terjalin di antara keduanya hingga berujung pada kesepakatan untuk melanjutkan hubungan pada jenjang yang lebih sakral, yakni pernikahan.

Semua kerabat hadir  dalam pernikahan itu. para tamu undangan memuji sepasang pengantin yang sangat serasi dengan pesta pernikahan yang sangat meriah pula. Mereka benar-benar dielu-elukan sebagai raju dan  ratu abad. Kedua mempelai pun tampak sangat bahagia dengan senyum yang tak pernah luntur dari kedua pasang bibir mereka. Para perempuan yang hadir akan berkata bahwa si wanita sangat beruntung karena dapat suami seorang pangeran. Sedang para laki-laki akan berkata pula bahwa sang pria lelaki sangat beruntung karena dapat memperistri seorang bidadari yang sangat cantik.

Setelah menikah mereka berdua masih tetap giat pada kesibukan masing-masing dan tak mau terlalu repot memaknai pernikahan yang baru saja mereka lakukan. Mereka berdua adalah jiwa-jiwa bebas yang tak ingin dikekang antar satu dengan lainnya. Pernikahan mereka anggap ha ya sebagai legalitas kepemilikan atas orang yang disenanginya dan dapat dibanggakan pada lainnya.

“Yang … Sepertinya aku hamil.” Suatu ketika si wanita mengadukan perihal kehamilannya pada si lelaki.

“Yang hamil kan kamu, ya sudah gak usah kau katakana padaku,” sergah si suami dengan nada ketus

“sepertinya aku ingin berhenti saja dari dunia model.” Kali ini nada bicara si wanita seperti agak kemalasan untuk mengutarakan perasaannya karena jawaban suaminya tadi.

“trus kalau kamu berhenti kamu mau kerja apa? Kamu hanya akan mengurus bayimu itu? dan menjadi wanita rumahan yang tak terurus badan dan kecantikannya karena terlalu sibuk mengrurus anaknya?” tanpa menunggu jawaban istrinya si suami pergi.

Si wanita benar-benar berada pada puncak kebingungan antara dia harus menjaga keutuhan rumah tangganya atau melenyapkan kandungannya itu, yang memang baginya ia datang terlalu cepat di usianya yang masih muda. Di mana karirnya saat ini tengah melejit. Penggemarnya pun telah semakin banyak sejak ia menikah dengan suaminya yang seorang pewaris perusahaan terkenal itu.

Kebingungan senantiasa menghantui hati si wanita. Sementara itu, semakin hari kandungannya kian membesar. Dan perlakuan suaminya pun kian dingin dengannya. Kecuali ketika menghadiri undangan penring saja mereka akan tetap seperti baik-baik saja dan suaminya akan tampak sangat bahagia dengan kehamilannya. Banyak dari teman-teman mereka berkata bahwa anak yang dilahirkannya nanti jika laki-laki akan setampan pangeran dan jika wanita akan secantik bidadari yang akan mengalahkan kedua orang tuanya.

Kebingungan-kebingungan itu lama-lama menjadi ketakutan karena si suami sudah mulai jarang pulang, sedang perutnya kian hari kian membesar. Rumah mereka yang megah itu seperti penjara bagi si wanita yang sekarang memilih vakum dari dunia model dengan kedaan fisiknya yang seperti itu. Di rumah itu hanya ada satu pembantu rumah tangga, satu tukang kebun, dan satu supir. Dan mereka semua itu jarang berinteraksi dengan si wanita, kecuali si wanita sedang butuh sesuatu untuk mereka kerjakan. Tak ada yang bisa diajak bercerita tentang kesunyiannya saat ini. Kesunyian yang membuatnya seperti wanita biasa, jauh dari apa yang telah terjadi selama ini.  

***

Ketika hari persalinan tiba si wanita tak didampingi oleh suaminya. Memang ia tak terlalu berharap suaminya akan datang. Ia hanya ingin anak yang dikandungnya segera lenyap dari tubuhnya. proses persalinan berjalan susah karena si wanita tidak dapat lagi untuk mengeluarkan napasnya. Bidan kandung yang menangani itu berinisiatif untuk melakukan bedah saja, namun si wanita tidak mau. Ia  ingin melahirkan dengan normal.  

Lima jam setelah itu, bayi dapat keluar dengan selamat. Namun, naas sang ibu tidak dapat tertolong.  sebelum meninggal si wanita sempat berkata “anakku akan menjadi penghisap darah”. Hal itu membuat bidan kandungan dan  pembantu rumah tangga bertanya-tanya akan maksud dari perkataan wanita itu. hal itu baru dimengerti ketika si bayi telah dapat dikeluarkan. Ia tak banyak berlumuran darah. kulitnya putih, bibirnya merah semerah darah. Bidan kandungan segera memandikan anak itu yang tak menangis sedikit pun. Hal itu merupakan kejadian yang sangat langka bagi si bidan dari sekian lama pengalamannya menangani proses persalian.

Si wanita dikuburkan tanpa proses keagamaan, semuanya diurus oleh pembantu rumah tangga si wanita malang itu dengan beberapa tetangga kenalan si wanita. Dan kematiannya dirahasiakan dari semua pihak. Sedang si bayi dibawa lari oleh si pembantu dan dirawatnya.

***

Aku masuk pada satu persatu bilik  yang dipenuhi jaring-jaring birahi. Kegelapan membuatku leluasa menikam mangsa. Sekali lengah darahnya mendidih di dadaku.

“Si penghisap darah” panggil saja aku demikian. Meskipun lambat laun orang-orang menambahkan kata “manis”, sehinga menjadi “si manis penghisap darah”. Aku tidak terlalu peduli akan hal itu. Aku tetap menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Entah sampai kapan. Hingga tiada darah lagi, mungkin. Membuat jerat-jerat bagi mereka yang tak pernah menghargai kehormatan berkelamin.

Noer Pangaro

BERPIKIR ATAU TERSINGKIR!

Pandemi masih menjadi sesuatu yang menghambat bagi sebagian mahasiswa yang aktif di organisasi. Mulai dari perekrutan sampai pengkaderan membuat banyak di antara mereka harus menciptakan inovasi-inovasi baru untuk mengatasinya. Bagi yang tak mampu berinovas, tentu tak dapat menghidupkan organisasi. Mengapa demikian? Karena mau tidak mau ketika kaderisasi berjalan, maka cara lama tidak lagi efektif diterapkan ketika ada perekrutan. Hal ini tentunya menuntut para aktivis organisasi untuk menemukan hal baru yang disesuaikan dengan keadaan pandemi ini.

Ikut-ikutan saja tidak cukup. Ikut-ikutan di sini maksudnya adalah ketika ada dari kelompok organisasi lain mengadakan kajian online, kelompok ini ikut mengadakan juga. Ketika kelompok lain menyebarkan pamflate perekrutan, kelompok ini ikut menyebarkan juga. Tentu dalam hal  perebutan massa organisasi memang hal itu wajar dilakukan. Namun untuk kemudian berbicara ranah kaderisasi hal ini akan menjadi warisan kebiasaan saja. Bukan merupakan sebuah ide gagasan yang lahir dari kader yang matang ditempa pemikirannya, dan telah terbuka wawasannya.

Maka dari itu, ketika ada momen pandemi ini selain dampak buruknya adalah merosotnya pengelolaan kaderisasi, kita harus pula menjadikan hal tersebut berdampak positif.  Positifnya di mana? Positifnya adalah kita dituntut untuk menciptakan sesuatu yang keluar dari kebiasaan yang nantinya itu menjadi kebiasaan baru. Hal ini selaras dengan ungkapan seorang filsuf, yakni Cogitu Ergo Sum yang merupakan ungkapan dari bahasa Latin yang diutarakan oleh Rene Descartes, filsuf ternama Perancis yang artinya “Aku berpikir maka aku ada”. Ungkapan tersebut dimaksudkan untuk membuktikan bahwa Keberadaan  suatu organisasi bisa dibuktikan dengan fakta bahwa kader-kadernya bisa untuk berpikir sendiri.

Ketika hal tersebut sudah tertanam dalam diri kader, tentunya  mereka tidak hanya menjadi pewaris kebiasaan atau penerus formalitas sebagai tanda bahwa organisasi itu masih ada meskipun tidak dihidupkan. Sebagaimana pernah disinggung di dalam sebuah tulisan seorang kader PMII, Agus Junaidi yang bertajuk  “PMII Dibunuh atau Bunuh Diri?”. Di dalam tulisan yang tegas dan lugas itu mengkritisi bagaimana keadaan kader PMII sekarang umumnya di bangkalan dan khususnya di Universitas Trunojoyo Madura. Di mana banyak dari mereka masih sibuk dengan politisasi internal organisasi dari pada memperhatikan atau bahkan sampai menyentuh keadaan masyarakat di sekitas kampus yang membutuhkan ulur tangan mahasiswa yang tentunya tidak hanya dijadikan sebagai objek penggugur program kerja saja.

Ketika seorang kader mampu untuk berpikir  secara progresif terhadap arah gerak organisasinya, maka organisasi tersebut perlahan akan terhidupkan kembali. Tentunya hal tersebut juga perlu diimbangi dengan hal-hal yang tidak berbau kepentingan pribadi atau kelompok tertentu yang hanya berpura untuk menghidupkan organisasi namun hanya menyejahterakan anggota dari kelompoknya sendiri saja. Serta, betul-betul dapat merawat dan menghidupkan organisasi dengan semangat juangnya dan kematangan berpikirnya.

Noer Pangaro
Pegiat Pelita

Pertemuan Kecil Di Pertigaan Desa

Sesekali sambangi teman-teman semasa sekolahmu dulu. Dan coba perhatikan perubahan mereka, terutama dalam hal cara berpikir (mengenai semua aspek kehidupan, baik itu sosial, budaya, politik, ekonomi, dll). Ada dari mereka yang masih dengan cara berpikir sama meski dengan pendidikan yang tinggi, ada pula yang cara berpikirnya telah berubah meski pendidikannya hanya sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP), atau bahkan  Sekolah Menengah Atas (SMA) denganmu dulu. Dan atau ada pula yang cara berpikirnya meningkat seiring dengan pendidikan mereka yang hingga perguruan tinggi. Kita harus mengetahui hal tersebut agar nantinya bisa mengimbangi bagaimana pola berpikir mereka. Dan tidak hanya tebang rata dengan memamer-mamerkan kemampuan dan pengetahuanmu yang kamu rasa itu belum mereka ketahui. (Catat dengan baik itu bukan cara yang tepat untuk pertemuan teman lama yang baru bertemu).

Walaupun, dalam perjumpaan antara teman lama masalah yang akan menjadi obrolan adalah seputar nostalgia masa-masa sekolah. Apalagi terkait betapa nakalnya ketika mereka tidak memikirkan beban apapun kecuali bagaimana susahnya mencari contekan saat ada Pekerjaan Rumah (PR) dari guru mata pelajaran. Alur nostalgia ini biasanya dimulai dengan membahas nasib mereka satu persatu, setelah itu dilanjutkan dengan membahas teman-teman se-angkatan, setelah itu barulah akan membahas pengalaman-pengalaman terbaik dalam masa-masa sekolah. Meskipun pengalaman yang dimaksud adalah sebuah kenakalan masa-masa remaja.

Setelah melewati obrolan seputar nostalgia masa-masa sekolah hal berikutnya yang akan dibahas adalah terkait kehidupan mereka sekarang. Terutama seputar lingkungan sosial mereka. Keadaan desa atau kampung masing-masing misalnya. Mulai dari kesejahteraan yang dirasakan (baik itu dalam hal ekonomi maupun infrastruktur desa yang tak merata), bobroknya pimpinan desa bersama para koloninya, maupun hal-lain lain yang berbau politis. Hal tersebut tentunya adalah momen terbaik dalam reuni singkat tersebut. Kenapa demikian? Karena kamu tak akan pernah menyangka, mereka yang dulu nakal bersamamu, bermain apa saja bersamamu, kini sudah mampu berpikir tentang tanahnya. Bayangkan, jika semua pemuda berpendidikan berkumpul bersama di situ. Dan mereka tidak hanya berbicara seputar kebobrokan, namun juga pembangunan yang perlu dilakukan ke depannya. Karena bagaimanapun suara pemuda adalah suara perubahan, sedang suara orang tua adalah suara kekuatan. Karena perubahan tidak bisa dilakukan tanpa kekuatan. Baik itu kekuatan dukungan maupun kekuatan perlindungan.

Kenapa perlu adanya dukungan dan perlindungan? Sebab, untuk desa-desa yang masih menganut sistem oligarki dan kerap mempraktikkan monopoli kekuasaan dengan masih menganut paham fasisme, akan membuat suara-suara pemuda  serupa bisikan-bisikan semut yang tak pernah sampai ke telinga gajah yang kapan pun bisa menginjang-injanknya. Makanya semut-semut tersebut butuh dukungan  dan perlindungan dari hewan-hewan lain yang kira-kira besarnya seperti gajah. Bukan malah tambah mendukung gajah karena besarnya dan mengecam semut karena kecilnya.

Itulah mengapa reuni-reuni kecil dengan teman lamamu perlu dilakukan. Walau hanya sebatas bernostalgia dan sedikit berceloteh tentang keadaan sekitar di mana kalian hidup dan dibesarkan. Pertemuan itu harus menghadirkan candu untuk pertemuan-pertemuan berikutnya yang nantinya akan menghasilkan sebuah gerakan.

(Terinspirasi dari pertemuan kecil di emperan sebuah toko dekat pertigaan desa D bersama teman semasa sekolah, FQ, AS, AF, Dan AR)

@noer_pangaro

Sumur Tua dan Bibir-bibir Tetangga

Sumur tua di bagian selatan negeri alengka masih banyak didatangi bagi orang-orang di sekitar negeri alengka. Sumur tersebut juga merupakan sumber air kehidupan alengka sejak dahulu. Sesiapa saja yang pergi ke sumur tersebut akan membicarakan perubahan negeri alengka. Memang, alengka telah berubah. Dulu Alengka hanyalah negeri sederhana yang kerap disebut sebagai negeri “Rampa’ Naong, Bâringèn korong. Lantaran kehidupan di sana terkenal damai, tanpa kekerasan, diskriminasi, dan persengketaan dari generasi ke generasi.

Perubahan terjadi ketika Rahwana naik tahta, sementara resi wisrawa ayahnya memilih moksa di sungai kapuas. Sedang, dewi Sukesi (Ibu Rahwana) diam-diam menikah lagi. Hal itulah yang membuat Rahwana murka. Dengan amarahnya Dewi Sukesi diusir dari Alengka. Karena menurutnya Dewi Sukesi sudah tidak ada sangkut pautnya lagi dengan Alengka. Selepas peristiwa itu awan hitam menaungi negeri Alengka. Ketika memasuki wilayah alengka siapaun akan mencium bau ketamakan, kebengisan, dan kekejaman Rahwana. Hal itulah yang kemudian membuat beberapa orang menarik diri dari Alengka yang kini tak ubahnya bagai gurun pasir tandus tanpa oase itu.

Sementara itu. Bibir-bibir tetangga yang bertabur di pinggir sumur tua. Perlahan merayap mendekati dinding istana Rahwana yang dibagun oleh Wisrawa. Setiap hari bibir-bibir itu semakin banyak menempel di dinding istana Rahwana. Terlebih ketika Rahwana bermaksud membangun istana baru yang lebih megah.  Namun, pembangunan istana tersebut terbilang lamban, bahkan kini diberhentikan. Untuk seorang sesakti Rahwana seharusnya hal tersebut bukan menjadi alangan, seandainya huru-hara tersebab ulahnya sendiri pada sebelum itu tak terjadi.Satu-satunya yang tesisa hanya kumbakarna adiknya yang tengah bertapa di Paman Sam, serta dewi Sinta yang berhasil diculiknya dari Ayodya. Sementara, adiknya yang semula menjadi penasehat kerajaan Alengka, yakni Wibisana ikut diusir dari Alengka tersebab sempat membela Sukesi ketika akan diusir dari Alengka.

Kadang terlihat roh Resi Supadma, kakek Rahwana dari ayahnya Wisrawa  duduk tepekur bersandar pada besi-besi bangunan istana yang dibiarkan telanjang begitu saja oleh pekerjanya. Roh Wisrawa pun kadang bernaung di bawah kawan yang mulai melengkung itu. Bukan karena panas terik yang menyengat di Alengka. Tetapi karena meratapi nasib Alengka yang semakin hari semakin berselimut kegelapan. Serta semakin banyaknya bibir-bibir yang mendekat ke Alengka dari arah sumur tua itu. Roh-roh itu hanya bisa meratap dan mendoakan kiranya Alengka kembali pada falsafah “Rampak Naong, Bâringèn Korong.”

@noer-pangaro

Aku dan “Aku”

Malam kian larut, namun binar gemintang dan suara layang-layang sepertinya bukan teman yang akrab untuk meneman tombol segitiga miring sebagai tanda memulai mimpi. Hanya pada malam aku dapat berbincang dengan baik terhadap “aku” yang lain. Karena saat siang, aku masih terlalu banyak perdebatan dengan “aku” yang lain. Aku menyadari adanya banyak “aku” di dalam diriku bukan karena sebab sering melihat challange “aku” yang diadakan Sujiwo Tejo di akun instagramnya dengan reward buku “Tuhan Maha Asyik”.

Aku menyadari adanya banyak “aku” sejak lama. Hanya saja karena ini aku merasakan sebuah kebutuhan makanya aku menulisnya. Karena terlalu banyak hal-hal penting yang kerap didebatkan oleh aku dengan “aku” yang lain. Dan itu belum sempat aku abadikan dalam tulisan.

Aku bahkan kerap bertanya-tanya, apa mingkin mereka kerap juga berbincang-bincang dengan “aku” lain dalam dirinya? Atau hanya aku yang kerap melakukannya? Sepertinya tidak. Mereka juga punya cara masing-masing untuk mereguk secangkir kopi hangat di pagi hari dengan “aku” lainnya, dan teh hangat ketika senja dengan “aku” yang lain lagi.

Mereka mungkin tak sadar. Siapa “aku” itu. Namun, aku sangat merasakannya. Dan itu terjadi tidak hanya ketika saat senggang saja. Namun, juga ketika sedang beraktivitas. Kadang “aku” yang lain akan menegurku, ketika aku lupa untuk bilang permisi saat lewat didekat orang, atau ketika aku terlalu kikuk untuk berbasa-basi dengan tetangga. Maka, “aku” yang lain akan menasehatiku atau juga kerap menilai perangaiku. Dia (“aku”) akan berkata “Sebagai orang Madura yang baik kamu harus dapat bergaul dengan baik. Dengan tetap bertumpu pada slogan lama orang madura, ‘Lakonah Lakonih, Jhalennah Jhelenih, Kennengannah Kennenggih’ (Kerjakan apa yang harus dikerjakan, jalani apa yang harus dijalani dan tempati apa yang seharusnya ditempati).Jangan sampai kamu menjadi orang yang cacat pergaulan sebagai orang Madura. Apalagi kamu sebagai orang berpendidikan. Harus tahu dengan baik etika dalam bergaul. Kamu pasti sudah hapal, bahwa bagi orang Madura Akhlak lebih utama dari pada kepandaian.” Walau kadang aku merasa risih dengan “aku” yang lain, karena telah mengatur-atur aku.

Aku juga sering cekcok ketika salah satu dari “aku” menemukan kata-kata untuk dijadikan “story Whatsapp”. Aku dengan “aku” yang lain akan terus memperdebatkan kata-kata itu, sampai kiranya tidak diperdebatkan dengan orang lain setelah di post. Walau kadang aku mencuri kesempatan tanpa sepengetahuan “aku” yang lain aku langsung mempostingnya.

Entah, mungkin kamu hanya ber”aku” namun aku lebih dari pada “aku”. Tak perlu kamu terlalu memeras otak memikirkannya.

@noer_pangaro

Kembali Ke Desa

Kembali ke Desa. Ungkapan tersebut bukanlah hal yang asing bagi kita. Ketika kita sudah mengenyam kesuksesan di luar desa, atau kita tengah berada di desa sekalipun kita harus kembali ke desa. Karena kadang meskipun kita tidak pergi ke luar desa sama sekali, tetapi gaya dan pola hidup kita sudah berubah jauh dari pola dan gaya hidup masyarakat desa selayaknya. Namun, bukan hal itu yang perlu menjadi perbincangan. Hal terpenting lain terkait desa adalah perubahan tatanan kehidupannya, pola berpikir masyarakatnya, kepekaan pemuda-pemudanya terhadap pembangunan desa, itu yang seharusnya  menjadi tugas bersama antara seluruh elemen masyarakat yang ada di desa.

Emha Ainun Najib atau yang sering dikenal sebagai Cak Nun pernah menulis sebuah buku berjudul “Indonesia Bagian dari Desa Saya” pada tahun 1992. Namun rasanya ungkapan “Indonesia Bagian dari Desa Saya” masih relevan untuk digunakan pada hari ini. Mengapa? Karena kita perlu memulai Indonesia dari desa kita. Selama ini jika kita berbicara Indonesia maka yang akan tampak di benak kita adalah Jakarta, gedung DPR, Monas, ragam budaya, Koruptor ( ups yang terakhir tak sengaja dicantumkan), dll. Tetapi, pernah tidak kita memikirkan hal sederhana bahwa desa kita itu juga bagian dari Indonesia. Kita juga perlu mengindonesiakan desa kita. Sehingga ketika ada kata-kata “nasionalisme” kita tak lantas memikirkan apa yang akan kita lakukan untuk negara dengan 269,6 juta jiwa manusianya ini. Setidaknya kita memulainya dari desa kita sendiri.

Nyatanya, sampai tulisan ini diguritkan dan mungkin tak ada yang membacanya nasib desa masih jauh dari kepedulian pemudanya. Hanya sebagian kecil saja pemuda yang masih  memikirkan desanya. Semangat gotong-royong yang diwariskan dari nenek moyang kita seharusnya dapat lebih masif lagi untuk diterapkan pemuda dalam pembangungan desa. Tidak hanya memikirkan bagaimana meraup keuntungan pribadi dan memperkaya diri. Akhirnya, dari banyak aktivitas pemuda yang ada di desa-desa saat ini cenderung pada budaya konsumtif yang tak selektif. Mengikuti tren-tren yang mereka anggap kekinian tanpa mengetahui baik buruknya.

Maka, ketika pemuda terpelajar mengetahui itu semua seharusnya bagiamana sikap yang harus dilakukan? Diantaranya, jangan sampai pemuda terpelajar alergi terhadap pergaulan pemuda lain yang dianggap belum terpelajar. Kalau perlu pemuda terpelajar ikut bergaul dengan pemuda lainnya dan menanamkan sikap-sikap positif pada mereka terkait pembangunan desa. Semisal, dengan adanya karang taruna desa, jadikan wadah itu untuk merangkul pemuda lebih peduli ke desa. Mulai dari kerja bakti sekitar desa, mengadakan kegiatan literasi, atau bahkan jika memang mampu ikut memantau sistem pemerintahan yang ada di desa.

Nah, terkait pemantauan sistem pemerintahan di desa ini memang tidak semudah yang dibicarakan. Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh pemuda, terutama diskriminasi dari kaum tua. Namun, hal itu jangan malah dijadikan sebagai pemudar niat. Namun jadikan tantangan untuk memberikan pembuktian. Nyatanya mereka yang banyak mengintimidasi pemuda adalah mereka yang takut terhadap potensi pemuda yang dikhawatirkan akan mengalahkan pengaruhnya di desa. Sedangkan untuk masyarakat yang percaya pada kemampuan pemuda berharap-harap setiap ada pemuda terpelajar menjadi wakilnya yang baik untuk membela hak-hanya yang banyak dirampas pemimpin korup hingga ke tingkat desa-desa.

Selain itu, sistem hukum alam yang masih terpelihara di desa-desa membuat nyali pemuda ciut. Tak ayal nyawa mereka diintai ketika berani mengkritisi kebijakan desa. Hal tersebut sebenarnya dapat diatasi ketika pemuda tak hanya mengandalkan rasa berani, namun juga memperkuat konsolidasi terhadap tokoh-tokoh berpengaruh di desanya untuk memberikan perlindungan.

Sikap kemandirian juga perlu ditanamkan pada benak pemuda desa. Hal ini terutama ketika ada pesta demokrasi desa. Tentunya akan banyak penyogokan untuk memilih calon kepala desa. Rasa kemandirian itu perlu ditanamkan pada pemuda dengan tak menerima suap berupa apapun untuk memilih calon yang manapun dengan tanpa takut nantinya akan dimasukkan dalam data ketika ada bantian atau tidak. Bayangkan, ketika paradigma tersebut tertanam kepada semua pemuda desa, yang kemudian mampu mempengaruhi paradigma para orang tua. Siapa yang akan takut? Ketika kemandirian itu betul-betul tertanam. Maka semua itu harus mulai dari rumahmu, akhirnya adalah bahwa Indonsia tidak hanya bagian dari desamu, namun rumahmu.

Noer Pangaro

PMII MENGHADAPI TANTANGAN MASA DEPAN

Menjelang 15 tahun pasca kemerdekaan Indonesia, semangat mengisi kemrdekaan terus menggelora seluruh elemen bangsa takter kecuali mahasiswa. Berkat intelektual Mahbub Junaidi lewat goreasan pena dan ketokohan zamroni dalam menggerakan masa angkatan 66 menjadikan PMII sebagai organisasi yang diperhitungkan dalam kurun waktu yang singkat sejak kelahiran tahun 1960. Dalam sambutan ketua PB PMII Agus M. Herlambang saat harlah PMII yanag ke 60th PMII sekarang sudah ada 250 cabang kabupaten / Kota dan ribuan kampus di seluruh Indonesia.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia saat ini bisa dikatan tidak muda lagi apalagi kemarin barusaja di rayakan hari kelahiranya yang ke 60th, organisasi yang di dirikan oleh 13 tokoh pemuda yang menginkan perubahan, saat ini PMII ini telah tumbuh subur menjadi organisasi yang besar. Tentunya butuh waktu yang tidak sebentar agar menjadi oragansasi yang tetap eksis sebagai wadah pergerakan yang tidak hilang di gerus oleh zaman.

Tentunya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia lahir sebagai suatu kebutuhan dalam menjawab sebuah tantangan zaman, dan terdorong oleh sebuah oleh hasrat mahasiswa dalam suatu system politik bangsa Indonesia yang pada waktu itu tidak bisa di perkirakan, dan tantangan lainya yang secara sosial, politik, cultural, dan melakukan kritis waktu itu yang melatar belakangi organisasi ini berdiri.

Dinamika- dinamika tentunya pahit dan manis sudah ada sejak berdiri tentunya menjadi tantangan tersendiri untuk terus terintegritas menjadi lebih baik lagi. Dengan cita-cita awal yang menginginkan menjadi organisasi Independent, PMII selalu berupaya menjadi garda terdepan penyambung lidah rakyat terhadap pemerintah.

Segala macam problematika saat ini serta tantangan yang terjadi tidak akan lepas dari perkembangan zaman yang semakin berubah. Hal ini menandakan era baru. Diharpakan anggota dan kader PMII saat ini lebih progresif dan berkembang ada beberapa hal yang harus di kembangkan dalam ruang- ruang pergerakan yang memungkinkan organisasi ini lebih menjadi actor penting dalam perubahan sosial dan melawan tantangan zaman.

Dalam hal tersebut Pergerakan Mahsiswa Islam Indonesia harus lebih peka terhadap perkembangan zaman, dan bisa beradaptasi pada kondisi saat ini. Yaitu dengan menguasai ilmu pengetahuan dan segala bidang apapun. PMII jangan hanya memperhatikan aspek kuantitas jumlah anggota maupun kader saja. Akan tetapi bisa menciptakan sahabat- sahabati yang berkualiatas dalam menguasai ruang ruang keilmuan yang ada. Agar bisa melawan tantangan zaman atau menyesuaikan perkembangan zaman saat ini.

Dan tentunya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang berlatarkan AhlusunahwalJama’ah menjadi filter mahasiswa agar tidak tersesat dalam ambisi semata, PMII pada era sekarang dimana arus globalisasi dan moderenisasi harus lebih cepat dibayangkan, sehigga di tuntut untuk lebih mengkokohkan pijakan. Maka kader dan anggota PMII harus selalu berdedikasi serta bersemangat dalam menjunjung tinggi cita-cita organisasi PMII. dan harus di ketahui pula menjadi kader PMII tidak hanya simbolis saja. Di kala seperti memakai baju yang bertulisan PMII, berjasPMII dan berfoto dengan bendera PMII lalu diunggah di media sosial berharap untuk di like komen dan hallainya.

Akan tetapi Ber-PMII berarti harus sadar akan jati diri kita sebagai manusai yang memegang teguh terhadap tanggung jawab moral, intelektual, sosial serta memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Seperti yang di katakana oleh ibu khofifah (GubernurJatim, Mantan PB Kopri), “Ketika kita berada dalam kepentingan kelompok, kepentingan pribadi maka tereduksi di organisasi tersebut demi kemaslahatan bersama. Mungkin para kader dan anggota bisa memahami apa yang telah ibu Khofifah katakan. Bahwa pemahan seperti itu harus ditanamkan kepada seluruh kader dan anggota agar terus melangkah dengan nait yang lurus, senantiasa setia pada proses, ”Namun di usia PMII yang tidak muda lagi kali ini ada sebuah sajak yang ingin saya ingin sampaikan kepada sahabat- sahabati sekalian agar lebih baik dalam melangkah.

“Ketika skeptisme kader dan anggota sudah merajalela, idealisme telah punah, dan ego menjadi dewata nuranipun mejadi jelata, tidak ada lagi corak aswaja yang ada hanyalah gaya hidup hedon yang menguasai, ketimpangan sering kali bersengkokol dengan kekuasaan dan melenyapkan persahabatan, maka disitu kader dan anggota akan tergrus oleh kejamnya arus zaman.”

Jadi seorang kader harus mampu memiliki integritas yang tinggi dan moralitas yang mumpuni, agar ia akan menjadi kaca bagi regenerasi kader selanjutnya uswatun hassanah bagi anggota lainya. seperti dalam kutipan yang di tulis oleh Tan Malaka yang melegenda Terbentur, terbentur, terbentuk! Itu bisa di buat pecutan agar mempunyai mental baja, tahan banting disetiap dinamika, serta mampu mempunyai integritas yang luar biasa, agar selalu ingin melebarkan sayap mengembangkan Aswaja di seluruh plosok Negri.

Dzikir, Fikir, AmalSholeh

Yang saya tanyakan apa yang sudah kalian siapkan untuk PMII kedepan?

April 25, 2020

Mas Hafidl

MARSUKAN DAN SANATI

Menikah bagi Marsukan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya saja. Tetapi, merupakan suatu cara untuk memberdayakan seorang perempuan. Meskipun demikian, ia tak terlalu tergila-gila terhadap perempuan yang telah bergumul dalam dunia modernisasi. Baginya seorang perempuan harus dididik secara modernisasi terkait dengan pemikirannya. Namun, terkait gaya hidup ia lebih tertarik terhadap gaya hidup perempuan desa. Hal inilah yang kemudian yang membuatnya menikah dengan Sanati. Ketika menikah Sanati masih berusia Sembilan belas tahun, sedang Marsukan sudah berusia dua puluh lima Tahun.

Marsukan telah menempuh pendidikan strata satu, lulus tiga tahun sebelum pernikahannya dengan Sanati. Sementara Sanati hanya gadis desa yang hanya sekolah sampai tamat SD saja. Selepas lulus dari SD sanati memang tak diizinkan melanjutkan oleh orang tuanya yang masih berpikiran kolot terhadap pentingnya dunia pendidikan. Meski guru-guru sempat membujuk orang tua sanati untuk melanjutkan sekolah anaknya, karena sanati termasuk siswa yang berprestasi semasa sekolah, namun bagi orang tua sanati percuma membuang-buang biaya untuk sekolah anaknya. Toh nanti larinya juga ke dapur juga. Kekhawatiran yang lain takut anaknya terjerumus ke pergaulan bebas ketika sekolah nanti. Sanati yang merupakan anak desa totok hanya menurut saja dengan perintah orang tuanya meski dia mempunyai keinginan besar untuk melanjutkan. 

Selain menempuh pendidikan umum sanati juga disekolahkan madarasah oleh orang tuanya sampai tingkat Tsanawiyah. Selepas sekolah agama itu pun lulus Sanati lalu dipondokkan. Namun, karena masalah biaya orang tua sanati akhirnya memulangkannya dari pondok dan mengajarkan sanati untuk bertani dan memelihara sapi. Di samping itu segala urursan dapur diajarkan pada sanati, waklaupun tanpa disuruh pun sanati sudah merasa bahwa itu adalah hal yang memang harus diketahui dan dikuasainya selaku orang desa.

Sebenarnya sudah banyak orang datang pada orang tua sanati untuk memulangkannya ke rumahnya. Karena kengganan sanatilah makanya semuanya itu tidak diterima oleh orang tua sanati. Oarang tua sanati kerap memarahinya karena khawatir sanati akan menjadi perawan tua. Mereka pun sebenarnya tak tega memaksakan sanati akan menikah dengan pilihan mereka karena rasa sayangnya kepada sanati. Jadi ditunggulah oleh orang tua itu siapa kira-kira yang akan dipilih sanati nantinya, meski mereka bersepakat bila sudah sampai waktunya sanati belum juga menentukan pilihan maka mereka terpaksa memilihkan sendiri untuk bakal suaminya nanti.

Marsukan sendiri sebenarnya sudah lama menaruh perhatian pada sanati. Orang tuanya pun sebenarnya bisa dibiliang akrab dengan orang tua sanati. Telah banyak didengarnya tentang banyaknya permintaan yang ditolak oleh orang tua sanati. Tentu bagi marsukan itu merupakan sesuatu yang tidak wajar untuk seukuran orang desa totok seperti mereka, pun sanati. Seorang gadis desa akan menurut saja apa saja yang akan diperintahkan oleh orang tuanya terkait jodoh, apalagi lamaran itu datang dari kalangan menengah ke atas.  Bagi mereka cinta dapat tumbuh seiring berjalannya waktu dari pada membiarkan anaknya menjadi perawan tua. Marsukan yang telah banyak bergaul dengan perempuan kota pun sebenarnya memang tak berniat memulangkan perempuan kota. Namun, untuk memulangkan perempuan desa pun sebenarnya ia enggan. Tetapi sanati, si kembang desa itu hingga kini belum bersuami. Tak kurang pergaulan marsukan dengan perempuan-perempuan kota yang sudah berpikiran modern. Baginya itu adalah keharusan bagi seorang perempuan. Karena darinyalah nanti tumbuh generasi-generasi hebat berkat didikannya pada keturunannya.

Setelah lama menimbang maka diputuskannyalah untuk mengutarakan niatnya memulangkan sanati pada orang tuanya. “tak mengapa meski perempuan desa, kalau dia aku ajar dengan cara modern tentu nanti akan berubah juga,” begitu bisiknya dalam hati untuk meyakinkan niatnya. Bagi orang tua marsukan sendiri pun sebenarnya tak keberatan jika anaknya menikah dengan siapa pun baik itu perempuan desa atau perempuan kota. Asal dia bisa diajar akhlak dan tatakrama sebagai seorang istri nantinya. Maka disiapkanlah segala kebutuhan untuk meminang sanati oleh kedua orang marsukan.

Bak menggenggam bintang yang dipetiknya ketika lamaran itu diterima oleh sanati. Awalnya orang tua marsukan takut permintaan mereka itu akan menimbulkan kekecewaan pada anaknya. Karena sudah banyak orang yang telah ditolak oleh sanati selama ini. Baik itu dari kalangan biasa bahkan sampai dari kalangan berada. Mereka yang dari kalangan biasa tentu dikerubungi rasa khawatir yang besar. Sekarang mereka dapat bernapas lega dan tersenyum lebar karena bertepuk tidak sebelah tangan pada lamaran itu.

Hingga pada hari pernikahan semuanya berjalan dengan lancar. Hanya kemudian ada sesuatu yang memberatkan kedua pihak mertua itu karena permintaan marsukan untuk hidup berdua saja dengan sanati dan meminta izin untuk merantau.  Bagi kedua mertua tak ada keberatan sedikit pun entah mereka akan tinggal di mana pun di antara rumah kedua mertua tersebut. namun, membiarkan mereka merantau berdua saja dengan tak berfamili di tempat yang akan dituju merupakan hal yang sangat berat bagi kedua mertua. Walaupun akhirnya kedua mertua tersebut dengan berat hati mengizinkan, sebab Marsukan berkata ia akan meminta bantuan teman semasa kuliahnya di tempat yang akan mereka tuju. Syarat berikutnya pun agar mereka tak kan menetap di perantauan nanti, melainkan pada kampung itu mereka harus berpokok nantinya. Permintaan tersebut tak terlalu menjadi buah pikiran bagi Marsukan karena memang dia tak berniat akan menetap lama di perantauan hanya ada hal yang sedang direncanakannyalah makanya dia memerlukan untuk hidup berdua dulu dengan istrinya.

***

“sudah sebulan kita hidup berdua saja. Aku sengaja membiarkanmu selama ini untuk menyelesaikan masa-masa keperwananmu. Karena tentunya tidak mudah bagi seorang perempuan untuk melepas masa gadisnya yang hanya sekali. Maka dari itu sputar kesenanganmu saja kemarin yang aku turuti. Tapi, bukan berarti untuk ke depannya aku akn mengekangmu untuk keinginanku saja. Aku taka da niatan untuk begitu, walau aku tau tentu kamu dengan tabiat kedesaanmu tak akan menolak sedikit pun apa yang akan menjadi buah permintaanku.” Sambil berkata demikian Marsukan seraya diperhatikan raut wajah istrinya, namun taka da perubahan apapun.

“kamu adalah imamku, junjunganku, sebagaimana yang aku tahu di desa hidup seorang istri hanya untuk suaminya,” Sanati menjawab dengan sedikit agak gemetar suaranya.

“aku menikahimu yang sebagai wanita desa bukan kemudian untuk memenuhi hasratku untuk membuatmu nurut dengan kata-kataku saja. Jangan kamu berpikir aku mempersuntingmu untuk memperoleh kuasa penuh atas dirimu, yang mungkin tidak akan aku dapatkan ketika aku menikah dengan orang kota yang kebanyakan dari mereka sudah serupa saja derajatnya dengan suaminya. Aku ingin kita bisa menjalin kasih dengan saling melengkapi. Aku tak ingin kamu terlalu menjungjungku karena aku lulus dari pendidikan tinggi dan kamu lulusan SD saja yang kemudian membuatmu menjunjungku selayaknya tuanmu dan kamu babunya. Aku ingin kita selalu dapat bertukar pikiran. Berbagi pendapat terkait permasalahan-permasalahan yang akan kita hadapi ke depan. Ini bukanlah permintaan untuk memuaskan nafsuku belaka karena malu beristri orang  desa. Tidak. Aku tak masalah jika ketika berkumpul dengan teman-temanku kamu tidak mengerti perihal apa yang mereka bicarakan. Kamu terlihat tak dapat memikirkan apa yang mereka bicarakan. Itu tak masalah bagiku. Kamu tak perlu merasa berkecil hati.” Dipandangnya wajah istrinya yang masih tertunduk, sehingga tak dapat ditebaknya perubahan air muka istrinya.

Perlahan diangkatnya dagu isterinya. Dan dilihat mata yang jernih itu telah berkaca-kaca. Mata yang masih suci lahir dari bagian bumi yang kadang terasingkan dan tak terlalu diperhatikan oleh dunia yang telah bergemerlapan. Ditatapnya kejernihan wajah istrinya yang tak sedikit pun tersentuh barang-barang modern. Sebuah kecantikan alami, layak batu permata yang belum tersasah. Perlahan air hangat dirasinya menyentuh tangannya, tak tahu apa yang membuat istrinya menangis, yang dilihatnya hanya sebuah ketulusan seorang perempuan desa yang pikirannya tak pernah terjejejal gaya kehidupan modern . Marsukan mengusap air yang keluar dari kedua mata perempuan yang kini benar-benar menjadi keutuhan rasanya. Dirangkul dan diciumnya, diarasinya detak jantung istrinya. Itulah saat dimana detak jantung perempuan begitu dekat dengannya serasa detak jantungnya sendiri.

***

“aku tidak dapat mengingat terlalu banyak dari apa yang aku baca,” ucap Sanati di pangkuan Marsukan.

Sejak menikah barulah beberapa minggu itu Sanati menunjukkan kemanjaannya terhadap suaminya. Awalnya terlihat sangat kaku untuk sekadar bermesraan walaupun dengan suaminya sendiri. Pertanda anak itu dididik dengan baik sebagai perempuan desa oleh orang tuanya. Marsukan merasa senang bahwa perlahan isterinya dapat berubah, dan apa yang dia rencanakan dulu pun kini telah dijalankannya.

“tak apa. Aku kan hanya memintamu untuk menceritakan apa yang telah kamu baca. Kamu ceritakan seingatnya saja. Tak mungkin juga kamu akan mengingat satu buku penuh.”

Sanati tampak berpikir sejenak lalu kemudian berkata,

“aku hanya bingung saja. Banyak kawan-kawanku dulu yang sudah menikah tak begitu diperhatikan oleh suaminya, bahkan dalam hal membaca. Tapi kamu tak kurang mengajarku pengetahuan tentang agama, juga senantiasa memerhatikan bacaanku, bahkan kalau bukan karena kamu aku tak tau pengetahuan-pengetahuan baru yang hanya ada dalam buku bacaan.” Seraya berkata demikian sanati masih belum menatap Marsukan.

Tatapannya seperti tengah menerawang jauh, menembus apapun yang menghalangi pandanganya di depan. 

Marsukan tergelak hatinya sekaligus merasa bahagia karena isterinya tahu akan maksudnya meminta untuk menceritakan apa yang telah dibaca oleh isterinya. Dia memang sengaja membeli rak buku di rumah itu dan membelikannya buku-buku bacaan dari berbagai genre untuk teman penghibur isterinya saat ia pergi bekerja. Awalnya sanati tak pernah menyentuh buku-buku itu kecuali untuk membersihkannya saja. Marsukan pun merasakan kecanggungan isterinya meskipun ia memberikan itu semua untuknya. “apa yang ada di rumah ini adalah milik kita berdua, baca saja buku-buku ini, tapi syaratnya kamu harus menceritakan setiap selesai membaca satu buku padaku sebelum kita tidur.” Maka sejak saat Marsukan mengatakan itu Sanati mulai berani untuk mengambil buku di rak itu. walaupun marsukan sudah memberinya smarphone sebelum membelikan rak buku itu, namun sanati sepertinya tidak terlalu tertarik dengan benda itu yang hanya digunakan untuk menghubungi marsukan saja. Pun karena di rumahnya dahulu ia dididik untuk jangan terlalu banyak memainkan barang itu oleh orang tuanya. Apalagi jika sudah berkeluarga seorang perempuan harus cekatan dalam menyelesaikan pekerjaan rumah, kecuali jika sesuadah pekerjaan itu selesai barulah ia boleh bersenang-senang. Selepas bersuami dengan marsukan sebenarnya ia tak terlalu direpotkan oleh pekerjaan rumah. Karena marsukan ikut untuk menyelaikannya. Terlebih ketika libur dari pekerjaanya dia akan menyelesaikan tugas-tugas yang biasa dikerjakannya seolah-olah dia yang lebih disibukkan oleh pekerjaan rumah.bahkan, kadang masakan suaminya terasa lebih enak dari masakannya sendiri, entahlah belajar dari mana suaminya memasak itu. Setiap ditolaknya segala bantuan suaminya dia hanya akan menerima jawaban dengan penuh kasih sayang “ini sebagai penebus ketika aku tidak di rumah” yang seketika itu membuatnya serasa kejatuhan bintang, karena merasa menjadi perempuan paling beruntung yang terlahir ke bumi. Hal itu pun yang membuatnya mematri dalam hatinya “kau adalah junjunganku selamanya”

“jadi, apa yang akan kamu ceritakan sekarang dari bacaanmu?” pertanyaan itu seketika membuat raut wajah sanati ceria kembali.

“kamu ini selalu meminta aku bercerita, seperti kamu tak pernah baca buku-buku itu saja. Setiap ada ceritaku yang melenceng dari buku itu pasti kamu tahu. Tapi tak mengapa aku tentu takkan menolak permintaanmu.”

Seketika tawa marsukan terlepas. Yang membuat pipi sanati memerah namun kebingungan seraya mengingat-ingat kata-katanya tadi takut ada yang keliru. Setelah dipikir taka da yang keliru maka sepontan tangannya mencubit paha marsukan yang cukup membuatnya berseru kesakitan. Sekarang giliran sanati yang ganti tertawa.

“baik, baik. Ceritakanlah.” Ucap marsukan seraya masih menyimpan sisa-sisa sakit bekas cubitan istrinya. Sebuah cubitan yang akan diberikannya ketika ia dibuat malu oleh marsukan.

“entah ini buku ke berapa yang telah aku baca selepas menikah dengan kamu. Judul bukunya sengsara membawa nikmat tapi aku lupa siapa pengarangnya, hehe biasa kebiasaan lama. Tokoh utamanya adalah Midun orang yang sangat disukai oleh masyarakat kampungnya karena kebaikan pernagainya. Hormat pada yang tua serta menyayangi kepada yang lebih muda. Tapi ada satu orang yang sangat benci pada midun, ia adalah kacak. Tersebab kacak sangat benci pada midun adalah karena masyarakat kampung itu lebih hormat dan mencintai midun dari pada kacak yang merupakan anak penghulu di kampung itu. permusuhan itu pun akhirnya membawa midun pada berbagai permasalahan meskipun ia tak menaruh dendam sedikit pun kepada kacak. Puncak dari permusuhan midun dan kacak, adalah midun dipenjarakan ke padang lantaran pasa saat itu ia berkelahi ketika melihat pacuan kuda dengan orang bayaran kacak. Oh iya midun punya teman maun. Tapi maun tak terlalu banyak dibahas dalam buku itu, kan tokoh utamanya midun.  Selepas keluar dari penjara midun bimbang, hendak kembali ke kampungnya ia enggan mengingat permusuhannya dengan kacak. Maka diputuskannya untuk mencari pekerjaan di padang. Namun akhirnya dia merantau ke jawa karena mengantarkan seorsng wanita yang kemudian menjadi isterinya. Tamat” ketika selesai bercerita maka dipandangnya suaminya yang ternyata sudah tertidur. Maka bangun dengan perlahan ia dari pangkuan suaminya. Namun baru bergerak sedikit pinggangnya sudah begitu erat di pegang oleh suaminya.

“singkat sekali ceritanya?” marsukan yang sebenarnya tak tidur itu semakin mempererat dekapannya.

“kamu tahu. Aku tak terlalu suka membaca buku yang tokohnya terlalu banyak berdialog. Apalagi kadang sampai satu halaman atau bahkan lebih.”

“lalu, apa hubungannya?” untuk pertama kali ia dibuat bingung oleh perkataan sanati.

“hubungannya kalau seumpamanya kisah kita ini ditulis oleh seseorang. Pasti akan sangat membosankan bagi pembacanya ketika si tokoh begitu panjang dalam dilaognya.”

“tidak juga, jika dialog itu berupa gagasan penting tentang pengetahuan yang ingin disampaikan tak mengapa panjang, lagian siapa juga orang yang akan menulis kisah tentang kita? bilang saja kau sudah bosan bercerita.” Dilihatnya sanati sudah tertawa.

“bukan begitu, maksudku kamu kan sudah membaca semua buku itu mengapa tak kamu minta aku mengutarakan maksud dan pesan yang ada dalam buku itu kenapa hanya memintaku menceritakan ulang saja?”

Marsukan tersenyum senang untuk kesekian kalinya. Kali ini rencananya seperti benar-benar berhasil.  

“ baik, jika kamu menginginkan demikian. Memang itu yang aku harapkan. Jadi kamu tak hanya berlelah-lelahan membaca sja. Tetapi dapat menalar apa yang telah kamu baca. Kemudian membandingkannya dengan keadaan sekarang.”

”ya sudah, namun aku akan meminta waktu lebih banyak untuk menalarnya. Karena kamu tahu aku hanya lulusan SD saja. Dulu memang kamu adalah lulusan SD, tapi jika kamu telah berhasil membaca semuanya maka kamu tak perlu menjadi lulusan apapun untuk terus berpikir.”

NOER_PANGARO

LITERASI SAINS SEBAGAI SIKAP RESPONSIV TERHADAP PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPA DAN SOLUSI RENDAHNYA KUALITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA BERDASARKAN HASIL PISA 2018

Nama : Ahmad Qadarisman

Era globalisasi dengan perkembangan IPTEK yang sangat pesat membutuhkan keseimbangan sumber daya manusia (SDM) yang dapat memaksimalkan perkembangan zaman, guna mensukseskan negara menjadi negara maju. Unsur terpenting suatau negara bisa dikatakan negara maju, jika pendidikan di negara tersebut berkualitas tinggih. Suatu pendidikan yang berkualitas besar kemungkinan juga akan menghasikan sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi. Kualitas pendidikan di Indonesia dikaji oleh studi internasional seperti Program for International Student Assessment (PISA). Hasil penelitian dan pengkajian oleh PISA pada tahun 2018 dari 69 negara, pencapaian siswa-siswi Indonesia untuk sains, membaca, dan matematika masih menempati peringkat 62, 61, dan 63, masih kalah oleh negara-negara seperti Amerika, Taiwan, Cina, Hong Kong, Australia, Jerman, dan Chile, bahkan negara berkembang seperti Nigeria. Pencapaian negara-negara tersebut di sebabkan karena adanya penerapan literasi sains yang sudah maksimal pada pendidikan dan optimalnya pemanfaatan teknologi.

Literasi sains diperkenalkan kepada negara Indonesia sebenarnya sudah sejak tahun 1993, melui undangan oleh UNESCO untuk mengikuti international forum on science and technological literacy for all in paris dan realisasinya diselenggarakan workshop on scientific and technological literacy for all in asia and pacific di Tokyo. Literasi sains mulai di akomodasikan dalam kurikulum 2006 (KTSP) dan lebih terlihat jelas pada kurikulum 2013 melalui kegiatan inkuiri dan pendekatan ilmiah (scientific approach). Akan tetapi masih banyak yang tidak mengerti tentang pentingnya literasi sains yang di dukung oleh teknologi, secara khusus siswa-siswi yang di sekolah menengah pertama (SMP).

Peran seorang pendidik dalam penerapan literasi sains yaitu memberikan pengertian dan pemahaman mengenai pentingnya literasi sains di era globalisasi. Seorang pendidik dalam mengembangkan literasi sains mengarahkan peserta didiknya untuk meningkatkan pengetahuan dan penyelidikan Ilmu Pengetahuan Alam, memperkaya kosa kata lisan dan tertulis yang diperlukan untuk memahami dan berkomunikasi ilmu pengetahuan dan, menghubungan antara sains, teknologi, dan masyarakat. Oleh karena itu, dengan adanya literasi sains dalam pembelajaran siswa-siswi diharapkan memiliki kemampuan yang harus dimiliki yaitu memiliki kemampuan pengetahuan dan pemahaman tentang konsep ilmiah dan proses yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam masyarakat di era digital, kemampuan mencari atau menentukan jawaban pertanyaan yang berasal dari rasa ingin tahu yang berhubungan dengan pengalaman sehari-hari, memiliki kemampuan, menjelaskan dan memprediksi fenomena, dapat melakukan percakapan sosial yang melibatkan kemampuan dalam membaca, dapat mengindentifikasi masalah-masalah ilmiah dan teknologi informasi, memiliki kemampuan dalam mengevaluasi informasi ilmiah atas dasar sumber dan metode yang dipergunakan, dan dapat menarik kesimpulan dan argumen serta memiliki kapasitas mengevaluasi argumen berdasarkan bukti.

Penerapan literasi sains pada pendidikan merubah paradigma teaching menjadi learning, artinya peserta didik dituntut untuk lebih aktif dan mandiri dalam proses pembelajaran, namun tidak mengenyampingkan peran pendidik. paradigma learning adalah belajar berpikir yang berorientasi berdasarkan pengetahuan logis dan rasional serta berorientasi pada bagaimana mengatasi masalah, belajar hidup mandiri. Dengan penerapan literasi sains adalah suatu bentuk sikap responsiv untuk meningkatkan pembelajaran IPA, dan sebagai solusi rendahnya pendidikan di Indonesia.

Perempuan Tak Pernah Salah Jatuh Cinta

Lisa (nama lengkap Dwi meylisa Septia) tetap tegar menjalani kehidupannya dengan seorang preman yang bolak-balik masuk keluar penjara. Husna (nama lengkap Ainatul Husna)  tak pernah sedikit mengeluh meski ia ditakdirkan menikah dengan lelaki yang jauh berbeda penampilannya dengannya. Marni (nama lengkap Anik Marniatie) bahkan hanya bisa mengagumi seseorang tanpa pernah mengungkapkannya. Dan lebih banyak lagi keajaiban yang terjadi dari suatu fenomena emosional manusia yang bernama cinta.

Lisa adalah anak seorang supir angkot yang hidup dengan sederhana. Ia menjalani kehidupan sebagai anak gadis biasanya yang dididik bagaimana menjadi perempuan sesungguhnya dengan tugas-tugas keperempuanan yang diperkenalkan ibunya sejak usinya lima tahunan. Hingga, ketika usia keremajaannya telah matang ia dinikahkan dengan seorang laki-laki, anak dari teman ayahnya yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya. Ia sadar kehidupan memang tak banyak memberikan pilihan bagi seorang wanita di dunia ini. Meski ia tak mau jika kisah hidupnya disangkutpautkan dengan kisah Siti Nurbaya yang kerap menjadi dongeng-dongeng remaja putri di daerahnya.

Pernikahan itu berjalan normal untuk beberapa bulan. Namun, lambat laun sang suami mulai melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk yang sepertinya memang menjadi kebiasaanya sejak mereka belum menikah. Kejadian demi kejadian tidak mengenakkan terus dialami Lisa semenjak menikah. Menjadi bahan gunjingan tetangga, harus menahan sakit hati setiap saat suaminya tertangkap polisi karena ketahuan mabuk-mabukan, judi, atau malak pedagang di pasar. Rasa kesal yang dirasakannya tak lantas membuatnya ingin meninggalkan suaminya. Meski teman-temannya menyarankan mereka berpisah saja. Bahkan, ibunya yang sering berkunjung ke rumah Lisa kerap menangis bila melihat keadaan anaknya yang semakin kurus, namun masih tetap terlihat baik-baik saja.

“Aku sedang melawan bu. Jika orang lain melihat aku tengah pasrah, tapi bagiku inilah bentuk perlawananku. Melawan untuk kalah, melawan untuk menyerah.”

“Tak mengapa nak. Kalau kamu sudah tak sanggup ibu sudah merestuimu untuk berpisah. Jangan kamu tanggung penderitaan ini selama hidupmu. Suamimu tak bisa dinasehati lagi,” sambil berkata air mata ibunya terus mengalir

“Ibu … Perempuan tidak semudah itu menodai pernikahan. Jika laki-laki kerap diposisikan sebagai nahkoda yang menentukan ke mana arah kapal akan melaju, maka perempuan adalah orang yang bertanggung jawab atas kapal itu. Dari kebersihan, kenyamanan, bahkan keamanan jika seandainya ada bagian kapal yang bocor.”

Mendengar ucapan anaknya semakin menjadi tangisan ibu itu. Ia merasa belajar dari anaknya sendiri dalam urusan rumah tangga. “Tak semua harus kau tanggung sendiri nak. Dalam kehidupan berkeluarga semua harus dihadapi bersama. Baik itu senang maupun susah.”

“Ibu percaya saja ke Icha (nama panggilan lisa di keluarganya). Biarkan waktu yang akan menjawab akhir dari semuanya. Yang penting untuk saat ini Icha harus terus bersabar dan sedikit-sedikit menasehati mas Herman.”

Dirangkulnya sang anak dalam dekapan tangis sang Ibu. Merasa menyesal dan berdosa dulu telah menikahkan anaknya dengan seorang lelaki yang jauh berbeda dengan anaknya.

***

“kamu tololnya kebangetan Na. Dulu waktu di sekolah kamu tuh idolanya cowok-cowok. Bahkan mereka berebut hanya untuk mengantarmu pulang sekolah. Ya … walaupun tak pernah ada yang kamu gubris,” Celoteh Rena sahabat Husna semasa SMA yang kalau berbicara suka ceplas-ceplos. Ia datang berkunjung karena memang sejak lulus SMA mereka tak pernah bertemu. Husna Menikah sedang ia meneruskan studi ke salah satu kampus ternama.

“Seseorang bisa saja kagum dengan kepandaian, seseorang bisa saja terpesona dengan penampilan, tapi seseorang akan nyaman dengan ketulusan. Kamu bisa saja berbicara cinta untuk usiamu yang sekarang. Namun kedalaman cinta akan kamu rasakan ketika usiamu telah senja. Gimana? Dosenmu di kampus ada yang bisa berkata-kata seperti itu gak? Hehe,” Husna memang selalu menyiapkan kata-kata itu sebagai senjata andalanya ketika ada yang nyinyir terhadap perkawinannya. Namun, pada sahabatnya ia tak terlalu menanggapi serius. Karena ia tau sahabatnya adalah tipe orang yang memiliki kriteria pria perfeksionis. Makanya sampai sekarang ia masih betah sendirian

“Entah apa yang merasukimu, Na. Jika aku jadi kamu tentu akan memilih pria yang terbaik di antara pria lainnya. Kamu emang gak bisa memanfaatkan kesempatan. Aldo kelas dua belas IPS dulu, apa yang kurang dari dia coba? Kaya, tampan, pintar. Ketika dia menawarkan kehidupan yang lebih baik buatmu, kamu malah tolak dia.”

“Maaf Na. Bukannya maksudku nyinggung perasaanmu, kasian aja ama nasibmu sekarang,” Rena segera menimpali ucapannya sebelumnya takut sahabatnya karena takut itu tersinggung.

“Tak apa Re. Aku juga sering kok digituin sama tetangga-tetangga sekitar rumahdulu ketika di rumah Ibuku. Makanya, aku milih buat menjauh dari lingkungan orang tuaku dan dan mertua. Aku mungkin salah dalam memilih tampang, aku mungkin salah dalam memilih kekayaan. Tapi aku gak salah memilih hati. Mas Yuda meskipun dia secara tampang pas-pasan, secara kekayaan juga tidak terlalu berkecukupan, namun hatinya penuh dengan ketulusan. Pada hakikatnya yang dibutuhkan perempuan adalah pria yang menjadikannya sebagaimana perempuannya. Menjaga kehormatan perempuannya melebihi kehormatan dirinya sendiri. Kau tau, mas Yuda tak pernah mau keluar bersama denganku. Aku harus selalu memaksanya ketika keluar bersama. Karena baginya aku adalah langitnya, meski aku tak membumikannya.” Husna berharap penjelasnnya dapat memberikan sedikit pemahaman pada sahabatnya yang terlihat menunduk.

Rena menundukkan kepalanya, perlahan diangkat dagunya oleh Husna.

Terlihan bulir-bulir bening mengalir dari matanya dan seketika memeluk Husna

“Na, sungguh aku malu sama kamu. Aku yang berpendidikan tinggi tak dapat belajar apapun dari pendidikanku. Tapi kamu telah banyak mengajariku meski pendidikanmu hanya sampai SMA.” Sambil tersedu dalam dekapan Husna Rena melanjutkan kata-katanya.

Rena perlahan melepaskan pelukannya danmenghapus air mata di mata sahabatnya itu.

“Udah gak boleh gitu. Malah mumpung kamu ke sini aku yang mau belajar dari anak  kuliahan. Hehe”

****

Perempuan memang tak memiliki banyak pilihan dalam cinta. Perempuan hanya bisa menunggu dan menunggu. Demikian yang kerap perempuan katakan. Seakan hidup seorang perempuan tidak punya daya. Sedangkan panggilan Ibu adalah lambang kebesaran dalam kehidupan ini. Tetapi ada saja alasan yang membuat seakan-akan perempuan itu lemah, tak berdaya, dan ada di bawah laki-laki.

“itu semua tak benar! Perempuan harus punya daya. Perempuan juga punya pilihan. Seperti memilih memendam, kemudian mengungkapkannya dengan cara yang berbeda.” Marni mencoba melawan setiap stereotip dan dogma negatif yang melekat pada perempuan, termasuk yang melekat pada keremajaannya selama ini. Sedangkan ia tau bahwa semua insan diciptakan ke dunia sama, mempunyai kesempatan yang sama. Perempuan dan laki-laki memang berbeda, namun jangan kemudian dibedakan.

“jangan terlalu kelewatan menuntut kesetaraan. Ingat kodrat perempuan dan laki-laki itu berbeda, Mar.”

Kata-kata yang kerap didengarnya dari teman-teman sejak SMA hingga kini di perkuliahan.

“Intinya bagiku, perempuan tak pernah salah jatuh cinta. Ketika cinta itu harus dibatasi dengan masalah gender maka disitulah  kemudian nilai suatu percintaan memudar. Seandainya Zulaikha tak bercintakan yusuf mana mungkin yusuf akan menjadi raja. Jika Bilqis tak bercintakan Sulaiman, mana mungkin Sulaiman akan memiliki istana dengan sejuta kemegahannya. Jika laila tak bercintakan majnun, mana mungkin majnun tahan digigil malam padang pasir. Apa yang salah akan cinta seorang perempuan? Bahkan cinta dalam diam siti fatimah mampu menggetarkan dinding-dinding langit. Bagi seorang perempuan sebuah rasa memang tampak biasa dalam pengungkapan, tetapi sebuah cinta bersemesta dalam pengharapan.” Begitulah kekukuhan hati Marni, bahwa setiap cinta mesti diungkapkan. Meski akhirnya itu semua hanya menjadi gejolak bagi hatinya sendiri.

Marni telah lama menulis sebuah nama dalam hatinya dengan lantunan doa yang dizikirkannya setiap saat. Husain, teman waktu SMAnya itu memang telah tersimpan pada tempat teristimewa dalam hatinya. Ia tahu Husain yang bernama lengkap Mahmud Husain Zahidi itu adalah orang tak memang tak pernah terlihat dekat dengan wanita. Bila berjalan menunduk. Penghafal Al-quran. Suaranya merdu bila adzan dan mengaji di masjid Sekolah. Sebagian teman-temannya memang ada yang tertarik dengannya yang berpenampilan bak orang-orang timur tengah dengan brewoknya yang tebal. Sebagian lagi acuh tak acuh. Mereka adalah para wanita yang kecewa karena tak pernah bisa merebut hati Husain.

Sejak lulus SMA mereka tak pernah bertemu lagi. Segala cara dilakukan Marni untuk mencari keberadaan Husain. Banyak informasi yang  didapatkannya. Kebanyakan mengatakan bahwa Husain melanjutkan studinya ke Kairo, Mesir. Bahkan, Marni belum sempat memberikan salam perpisahan. Meski Husain telah menjadi tokoh utama dalam diari-diarinya. Sejak saat itulah teori bahwa perempuan juga berhak mengungkapkan cintanya muncul dalam hatinya. Meskipun ia tak pernah jatuh cinta lagi setelah itu. Husain masih terkenang hingga kini ketika ia berada pada semester akhir di kampusnya. Mungkin empat tahun lebih dari sebuah penantian bagi Marni. Namun dalam hatinya selalu tertanam bahwa perempuan tak pernah salah jatuh cinta. Jadi menanti bukanlah sesuatu yang berarti baginya dibanding dengan besarnya rasa cintanya.

****

“Terima kasih, seharusnya kamu tak bersuamikan aku,” ucap laki-laki itu dari balik jeruji besi dengan linangan air mata.

“Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang salah. Begitupun dengan cintaku. Kau tetap lah Ayah dari anak ini. Lima tahun tak terlalu lama bagiku untuk menanti, dan semoga tak terlalu cepat bagimu untuk memperbaiki diri.”

Sejak saat itu Lisa tak pernah mengunjungi suaminya secara langsung dipenjara. Tetapi dia sangat dekat dengan para penjaga penjara itu untuk menanyakan perihal perkembangan suaminya seperti apa. Ia sengaja melakukan hal itu untuk memberikan kejeraan pada suaminya. Meskipun dalam sebulan setidaknya empat kali ia akan ke penjara mengantarkan makanan untuk suaminya itu. Sekadar untuk mengobati kerinduan suaminya pada masakan istrinya.

Dan memang lima tahun bukan waktu yang terlalu lama. Lisa yang mendapat pinjaman dari orang tua dan mertuanya dulu berhasil membuka toko bahan sembako yang cukup besar di samping rumahnya. Dari toko itulah ia kemudian bertahan hidup selama suaminya dipenjara.

Hari ini adalah hari kebebasan suaminya. Disiapkannya syukuran kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan suaminya. Ia tau sudah terlalu banyak yang ditanggungnya memang karena suaminya. Apalagi setelah suaminya di penjara untuk selama  kali ini yang pada saat itu usia anaknya masih 1 Tahun. Gunjingan tetangga makin menjadi-jadi. Bahkan ada yang mengatakan bahwa ia telah diguna-diguna hingga sesetia itu.

“Bagiku mudah untuk meninggalkan. Tetapi walau bagaimana pun ia adalah suamiku. Suami yang bahkan aku pilih untuk mengabdinya tanpa aku tahu dia seperti apa. Suami yang padanya aku berjanji hidup beserta matiku kuserahkan padanya.Mudah bagi kebanyakan orang untuk berbicara cinta. Tapi bagiku tidak sesederhana itu untuk pembuktiannya. Kamu boleh salah bertindak sebagai pelakon cinta, tetapi kamu takkan pernah salah jatuh cinta. Jangan agung-agunggkan cintamu yang hanya memuja kesempurnaan, tetapi tanyakan pada cintamu sekebal apa dia juga akan menerima kekurangan.” lagi-lagi perkataan ini membuat Ibunya menangis tersedu-sedu.

Tamat

NOER PANGARO

PEGIAT LITERASI PELITA